Support Jalatama

My status

 

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday4532
mod_vvisit_counterAll days20614

Today: Nov 28, 2014
Home Pendidikan AnalisaTeknikal
Analisa Teknikal PDF Cetak Surel

Para investor dan analisis menggunakan analisis teknikal (technical analysis) untuk mengindentifikasi apakah kondisi pasar sedang dalam fase bullish atau bearish agar dapat menentukan strategi memanfaatkan tren yang terjadi demi mendapatkan keuntungan.

Dalam penggunaannya, analisis teknikal sering kali mengabaikan hal-hal fundamental. Hal ini terjadi karena faktor-faktor fundamental dianggap telah terefleksi terhadap harga pasar sehingga dapat diabaikan, adanya keyakinan bahwa sejarah berulang dengan sendirinya sehingga pasar bergerak dalam kisaran yang dapat diprediksi dan memiliki pola tertentu dan harga bergerak dalam arah/tren.

Para pengguna analisis teknikal yakin bahwa harga bergerak dalam tiga arah yaitu naik, turun, atau menyamping dan tidak bergerak dalam kondisi acak. Tren ini biasanya bertahan sampai beberapa periode.

Berbeda dengan analisis fundamental yang lebih menekankan prediksi perilaku pasar berdasarkan indikator-indikator ekonomi yang ada dan berorientasi pada masa depan, analisis teknikal lebih kearah prediksi pergerakan harga dengan meilhat data historis yang terjadi di pasar dengan menggunakan matematis (quantitive model).

Grafik/chart membantu menentukan level ideal untuk memasuki pasar dan menyediakan efek visual dari historis pergerakkan harga, sehingga dari grafik anda dapat melihat bagaimana kecenderungan pasar berkaitan dengan harga beli, harga jual, harga tertinggi, harga terendah, dan sebagainya. Sedangkan perhitungan matematis digunakan untuk menghitung ketahanan tren yang sedang terjadi.

 

PRICE CHART
Grafik harga (price chart) merupakan rangkaian harga yang dituangkan dalam suatu batasan periode waktu yang merekam kejadian yang ada di pasar berkaitan dengan aktivitas jual-beli.

Technician (sebutan untuk analisis teknikal) dan chartist (sebutan bagi pengguna grafik) menggunakan grafik harga untuk menganalisis dan meramalkan pergerakkan harga.

Pada grafik, sumbu y (sumbu vertical) mewakili skala harga dan sumbu x (sumbu horizontal) mewakili skala waktu. Harga dituliskan dari sebelah kiri ke kanan dari sumbu x dengan menempatkan harga terbaru pada sebelah paling kanan.

Ada beberapa tipe grafik yang sering digunakan, di antaranya adalah bar chart, line chart, candlestick chart, dan lain-lain.

 

LINE CHART
Line chart mengandung satu nilai saja seperti open atau close, high atau low pada jangka waktu yang telah ditentukan.

Bagi beberapa investor dan trader, harga penutupan (closing price) merupakan informasi yang lebih penting daripada open, high, atau low. Dengan memperhatikan harga penutupan saja maka pergerakkan harga pada hari itu bisa diabaikan.


Line Chart

 

BAR CHART
Bar chart menggambarkan harga tertinggi (highest price), harga terendah (lowest price), terdapat juga harga pembukaan (opening price) dan harga penutupan (closing price) dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Terdapat suatu garis vertical yang menggabungkan nilai high dan low, tanda penghubung sebelah kiri menunjukkan nilai open dan tanda penghubung di sebelah kanan menunjukkan nilai close.

Bar chart sangat efektif untuk menampilkan data dalam jumlah yang besar karena bentuknya yang relative ramping.
Jika anda lebih cenderung mengamati harga penutupan, bar chart merupakan alat bantu yang cukup efektif dalam menganalisis hubungan harga penutupan dengan high dan low.


Bar chart

 

CANDLESTICK CHART
Grafik ini dibuat pada abad ke-18 oleh Homma Munehisa dari Jepang. Pada awalnya grafik ini digunakan untuk menganalisis harga kontrak padi, karena itu sering disebut sebagai Japanese Candles. Steven Nison kemudian mempopulerkannya melalui buku Japanese Candlestick Techniques, 1991.

Candlestick chart digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga yang menekankan hubungan antara harga pembukaan dan penutupan, memuat high, low, harga pembukaan dan penutupan.


Candles


Candlestick Chart

Grafik ini biasanya terdiri atas body (dalam buku ini berwarna hitam atau putih) dan garis vertical di atas dan di bawah body (wick) yang menunjukkan harga tertinggi dan terendah. Jika harga turun (bearish) atau harga penutupan lebih rendah dari harga pembukaan, body berwarna hitam. Sebaliknya jika harga naik (bullish) atau harga penutupan lebih tinggi dari harga pembukaan, maka body berwarna putih, tapi bisa juga tidak memiliki body atau wick. Dalam hal pemberian warna, setiap service provider mempunyai ketentuan sendiri.

Selain berbagai macam candlestick pattern, terdapat pula beberapa pola grafik yang menunjukkan perkiraan jangka panjang atau jangka pendek dari pergerakan harga yang dapat dijadikan sebagai konfirmasi dalam melakukan transaksi. Pola grafik merupakan gambaran atau pola dari harga di masa lalu yang diasumsikan akan selalu berulang di masa depan.


Secara umum pola harga mengikuti dua bentuk dasar, yaitu:

  1. Pola berkelanjutan (consolidation/continuation pattern)
  2. Pola perubahan arah (reversal pattern)

 

CONSOLIDATION/CONTINUATION PATTERN
Pola berkelanjutan atau consolidation/continuation biasanya terbentuk saat gerakan harga mengalami kejenuhan/koreksi harga di dalam tren.

Pola berkelanjutan lebih sering terjadi dibandingkan dengan pola perubahan arah. Berdasarkan harga teringgi dan harga terendah dalam suatu pola berkelanjutan, maka jarak kenaikan atau penurunan harga (price objective) dapat dihitung.

Cara menganalisis pola berkelanjutan:

  1. Perhatikan tren sebelum pola berkelanjutan terbentuk; kecenderungan harga setelah pola berkelanjutan adalah melanjutkan tren.
  2. Buatlah garis bantu (support dan resistance lines). Karena pola berkelanjutan merupakan hasil yang dibentuk oleh garis bantu, maka dalam kasus ini cara analisis support dan resistance dapat digunakan.

Bentuk pola berkelanjutan antara lain:

  1. Segitiga (triangle)

  2. Bendera (flag)
  3.  


  4. Berlian (diamond)

Reversal Pattern
Pola reversal atau pola perubahan arah merupakan akhir dan juga awal perjalanan trend. Bentuk pola perubahan arah adalah:

  1. Double Top Reversal

  2. Doble Bottom Reversal


  3.  

  4. Head and Shoulder

Memang bentuk pola perubahan arah jarang terjadi dibandingkan dengan pola berkelanjutan. Analisis pola perubahan arah dapat dilakukan dengan cara:

  1. Perhatikan tren sebelum pola perubahan arah terbentuk kecenderungan harga setelah pola perubahan arah adalah berganti arah tren dari sebelumnya.
  2. Buatlah garis bantu; Karena pola ini juga merupakan hasil bentukan garis bantu, maka cara analisis support dan resistance dapat digunakan dalam kasus ini.

 

Tren
Tren harga suatu indeks saham secara tidak langsung juga menjadi tanda arah pergerakan nilainya, yang terdiri atas tiga arah yaitu uptrend, downtrend, dan sideways.

Tren

Secara mudah dapat dikatakan bila anda melihat grafik harga dan tetap terlihat harga sedang naik, maka tren yang terjadi adalah naik (up trend); sebaliknya, jika anda melihat harga sedang turun maka tren yang terjadi adalah turun (down trend). Namun dalam beberapa kasus terkadang sulit mengidentifikasi apakah harga sedang naik atau turun, sehingga dapat dikatakan tren tidak jelas (trendless). Tren yang tidak jelas adalah ketika harga bergerak kesan kemari dalam sebuah batasan harga, karena itu sering disebut sebagai sideways yang merefleksikan suatu periode keseimbangan dalam harga (price level) permintaan dan penawaran (supply and demand).

Pasar dibentuk dari tren yang berbeda sehingga kemampuan anda dalam mengenali tren yang sedang terjadi akan menentukan kesuksesan atau kegagalan berinvestasi. Dengan mengetahui tren yang sedang terjadi, anda dapat mengambil keputusan beli, jual, atau bahkan tidak melakukan apa-apa. Pada saat tren naik disarankan untuk membeli, saat tren turun disarankan untuk menjual, sedangkan pada saat pergerakan tren pasar mengalami sideways, tindakan yang biasanya diambil adalah tidak masuk dalam pasar.

Analisis tren terikat pada time frame dari grafik yang sedang diamati. Sebuah grafik dengan rentang waktu 1 bulan bisa menunjukkan tren turun, bisa jadi grafik harian menunjukkan tren naik, sehingga hal ini bisa menimbulkan kebingungan.

Batasan harga (price range) dapat digunakan untuk mendapatkan identifikasi yang tepat mengenai tren yang terjadi. Jika terdapat rangkaian harga higher highs dan higher lows maka tren sedang naik. Sebaliknya jika terdapat rangkaian harga lower low dan lower high maka tren yang sedang terjadi adalah turun.

Konsep tren merupakan hal mendasar dalam pendekatan pasar dengan menggunakan analisis teknikal. Garis tren (trend lines) terbentuk pada saat anda menggambar garis diagonal di antara dua atau lebih price pivot points. Price pivot point merupakan titik balik harga.


Trend line



Support and Resistant

Garis tren adalah garis yang mambatasi pergerakan harga dari indeks saham. Support tren line terbentuk ketika harga menurun dan kemudian berbalik arah pada sebuah pivot point yang sejajar dengan paling tidak dua support pivot point sebelumnya. Dengan prinsip yang sama dengan support trend line, resistant trend line terbentuk dengan cara yang sama, hanya saja pada saat harga naik dan kemudian berbalik arah pada pivot point.

 

Fibonacci Retracement
Fibonacci merupakan salah satu teknik analisis pergerakan harga, khususnya mengenai support, resistance, dan retracement. Ada beberapa jenis Fibonacci, diantaranya adalah arc, fan, time zone dan retracement. Dari sekian banyak jenis Fibonacci tersebut, retracement merupakan jenis yang paling sering digunakan karena menunjukkan level tujuan pergerakan harga sesuai dengan support dan resistant.

Fibonacci retracement diperoleh dengan cara menarik sebuah garis tren virtual antara harga terendah dengan harga tertinggi, begitu jg sebaliknya sehingga dihasilkan level-level support dan resistant dari rasio-rasio Fibonacci.

Support dan resistant digambarkan dengan bentuk garis horizontal yang mewakili level Fibonacci dari 0.0%, 23.6%, 38.2%, 50%, 61.8%, 100%, 161.8%, 261.8%, 423.6%. Mungkin tidak semua level tersebut akan tampak dalam grafik karena jarak nilai sangat jauh.



Fibonacci Retracement
Garis tren merupakan pendekatan analisis teknikal yang sederhana dan sering digunakan untuk menentukan saat masuk dan keluar pasar. Selain itu, terdapat beberapa indikator untuk mengindentifikasi tren, di antaranya adalah:

 

Bollinger Bands
Indikator ini di kemukakan oleh John Bollinger pada awal tahun 1980-an. Indikator ini memperlihatkan perbedaan antara pergerakan harga dengan harga relatif yang sedang terjadi dalam periode tertentu.

Bollinger bands bentuknya menyerupai sabuk yang menjadi pembatas pergerakan harga yang terdiri atas tiga buah garis yang menunjukkan pergerakan harga secara garis besar, yaitu:

  1. Garis simple moving average (SMA) yang terdapat di tengah (middle band).
  2. Upper bands yaitu garis batas atas (SMA + 2 standar deviasi).
  3. Lower bands yaitu garis batas bawah (SMA – 2 standar deviasi).

Bollinger bands hamper sama dengan moving average envelopes. Perbedaannya, envelopes mengacu pada persentase tetap di atas dan di bawah moving average, sedangkan Bollinger bands mengacu pada tingkat standar deviasi di atas dan di bawah moving average. Standar deviasi merupakan suatu perhitungan statistik yang mengindikasikan suatu pergerakan harga (volatility) dengan baik. Standar deviasi digunakan untuk mengetahui arah pergerakan mana yang akan bereaksi dengan cepat terhadap pergerakan harga dan direfleksikan pada setiap periode tinggi dan rendah volatility. Karena standar deviasi merupakan hasil pengukuran dari tingkat volatility, maka garis-garis bands selalu berubah berdasarkan volatilitas yang terjadi: melebar saat terjadi pergerakan besar di pasar dan menyempit saat pasar dalam kondisi lesu.

Bollinger bands paling umum digunakan untuk mengidentifikasi pasar overbought oversold. Pasar overbought atau oversold adalah kondisi pasar ketika harga sudah terlalu naik atau terlalu turun. Apabila harga di dekat upper bands memberikan sinyal pasar overbought, disarankan untuk melakukan penjualan (sell). Apabila harga dekat dengan lower bands, itu menandakan bahwa harga sudah dianggap paling rendah (oversold) secara relatif sehingga merupakan kondisi yang baik untuk melakukan pembelian (buy).

 

Karakteristik Bollinger Bands:

  1. Perubahan harga cenderung terjadi setelah bands menyempit karena berkurangnya pergerakan harga.
  2. Ketika harga bergerak melebihi bands maka menandakan tren yang terjadi masih berlanjut.
  3. Harga terendah dan tertinggi yang terjadi di luar bands kemudian diikuti oleh harga terendah dan tertinggi di dalam bands menandakan akan terjadi perubahan tren.
  4. Pergerakan yang berasal dari salah satu band cenderung untuk bergerak ke arah band berikutnya.


Bollinger Bands

 

Commodity Channel Index
Commodity Channel Index (CCI) yang di kembangkan oleh Donald Lambert adalah suatu indikator untuk mengidentifikasi pembalikan harga, harga yang ekstrem dan kekuatan tren. Terdapat dua metode dasar dalam interpretsai CCI, yaitu untuk mencari divergence dan menjadi indikator overbought/oversold. Divergence terjadi pada saat harga naik mencapai nilai yang lebih tinggi, tetap CCI menurun dan sebaliknya.


Commodity Channel Index

CCI biasanya bergerak dalam rentang ± 100. Bila harga di atas +100 maka bisa diindikasikan overbought dan saat harga di bawah – 100 bisa dikatakan bahwa pasar oversold.

Seperti pada sebagian besar indikator, CCI akan lebih efektif bila digunakan bersama dengan indikator lain, contohnya digunakan bersama momentum oscillator.


Moving Average
Moving average (MA) merupakan salah satu indikator yang paling populer dan mudah digunakan. Moving average adalah suatu nilai rata-rata dari rangkaian data baik open, high, low, close, volume, atau bahkan indikator yang lain, yang menggunakan data yang selalu bergerak. Dengan mengguanakn harga rata-rata dari harga yang bergerak, MA menampilkan rangkaian data untuk mempermudah mengetahui kecenderungan arah harga di waktu yang akan datang.

Beberapa tipe MA yang sering digunakan adalah simple (aritmetik), exponential, weighted, triangular, dan variable. Perbedaan setiap metode tersebut terletak pada pemberian bobotnya.

Simple moving average memberi bobot yang sama untuk setiap data. Weighted dan Exponential memberi bobot lebih pada data terkini; triangular memberi bobot lebih untuk data di tengah periode dan variable mengubah bobot berdasarkan votatilitas harga.
Metode yang sering digunakan dalam interpretasi sebuah MA adalah membandingkan hubungan antara MA dengan harga indeks saham. Bila garis harga memotong garis MA dari bawah, maka mengindikasikan harga cenderung naik. Sebaliknya jika harga memotong garis MA dari atas, harga cenderung turun.


Moving Average

Simple Moving Average: Simple moving average bisa dikatakan sebagai MA yang paling umum dan popular Karena mudah menghitungnya. Simple moving average dihitung dengan menambahkan nilai-nilai dalam periode yang telah ditentukan kemudian dibagi dengan jumlahnya. Hasil yang didapat adalah harga rata-rata dari suatu periode tertentu.

Untuk mendapatkan MA dari harga penutupan dalam periode 50 hari adalah dengan menjumlahkan semua harga penutupan selama 50 hari kemudian jumlahnya dibagi dengan 50.

Periode MA yang paling sering digunakan adalah 20, 30, 50, 100, dan 200 hari. Setiap MA yang didapat menghasilkan interpretasi yang berbeda. Semakin pendek periode yang digunakan, MA yang dihasilkan akan semakin sensitif terhadap perubahan harga. Semakin panjang periode waktu yang digunakan, MA yang dihasilkan akan akan lebih smooth karena tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga atau volume yang sering disebut noise, yang kerap membingungkan dalam interpretasi.

Penggunaan simple moving average sama dengan MA yang lain, yaitu untuk memberikan sinyal jual atau beli.

 

Weighted Moving Average: Weighted moving average lebih menekankan pada data terbaru disbanding data-data sebelumnya. Dengan kata lain, data baru lebih bernilai dari data sebelumnya. Weighted moving average dihitung dengan mengalikan setiap data dengan sebuah bobot. Bobot ini diperoleh berdasarkan jumlah periode dalam MA.

 

Exponential Moving Average: Mirip dengan weighted moving average, sama-sama menganggap data terakhir lebih penting dari data sebelumnya. Perbedaannya, exponential moving average tidak melepaskan data yang lama, melainkan menahan semua data yang ada.

 

Triangular Moving Average: Triangular moving average memberikan penekanan lebih pada nilai tengah rangkaian harga. Triangular moving average bias juga disebut sebagai double-smoothed simple moving averages.

 

Variable Moving Average: Variable moving average adalah sebuah exponential moving average yang secara otomatis menambahkan smoothing persentase berdasarkan volatilitas dari rangkaian data.

Semakin besar pergerakan data, semakin sensitif smoothing constant yang digunakan dalam perhitunganny. Sensitivitas bertambah dengan memberikan penekanan yang lebih pada data yang sedang diamati.

 

Parabolic SAR
Parabolic SAR, yang dikembangkan oleh Welles Wilder, digunakan untuk mengidentifikasi perhentian harga (price stop) dalam posisi jangka panjang atau posisi jangka pendek yang mengacu pada stop-and-reversal (SAR).

Parabolic SAR lebih popular untuk menentukan perhentian dibanding untuk menetapkan arah atau kecenderungan. Anda seharusnya menutup posisi jual ketika harga turun di bawah SAR dan menutup posisi beli pada saat harga naik melebihi SAR.

Titik SAR seperti garis bengkok parabola saat mendekati dan menyentuh harga sehingga muncul istilah Parabolic Time Price System. Parabolic Time Price System biasanya diletakkan pada bar chart agar titik berhenti dan berbalik dapat diketahui dengan mudah.

Membuka posisi baru sebaiknya dilakukan saat titik SAR berada cukup jauh dari harga agar ada ruang bagi harga bergerak melawan tren. Direkomendasikan agar indikator ini diset pada 0.02 dan untuk maksimumnya diset pada 0.20.

Saat tren mulai, titik SAR bergerak bersama harga, lalu sedikit demi sedikit jaraknya menyempit bersama dengan berjalannya tren. Hal ini karena adanya factor mempercepat yabg bertambah pada suatu batas tertentu setiap kali tren mencapai extreme baru.

Penjelasan lengkap mengenai perhitungan Parabolic SAR dapat ditemukan dalam buku New Concepts in Technical Trading yang ditulis oleh Welles Wilder.


Parabolic SAR


Moving Average Convergence Divergence (MACD)
Dikembangkan oleh Gerald Appel, Moving Average Convergence Divergence (MACD) merupakan perkembangan dari MA dan merupakan salah satu indikator yang paling dapat dipercaya.

MACD terdiri atas dua garis yaitu MACD line dan signal line. MACD line mengukur perbedaan antara exponential moving average (EMA) jangka pendek dengan EMA jangka panjang.



Signal line adalah EMA dari MACD line.

MACD secara umum digunakan untuk memberikan sinyal beli dan jual, menunjukkan trend dan menunjukkan bullish dan bearish divergence. Sinyal beli dan jual diberikan oleh persilangan antara MACD line dengan signal line. Sinyal beli terjadi ketika MACD line bersilangan dengan signal line dari bawah ke atas. Apabila persilangan ini terjadi di atas garis nol, sinyal yang dihasilkan semakin kuat. Sinyal jual terjadi pada saat MACD line bersilangan dengan signal line dari atas ke bawah; sinyal akan semakin kuat apabila persilangan terjadi semakin di bawah garis nol.

MACD berfungsi untuk menunjukkan arah tren jika tren menambah momentum  dengan bertambahnya jarak antara kedua MA (pendek dan panjang). Tren naik terjadi pada saat kedua garis MACD di atas garis nol dan MACD line di atas signal line. Tren turun terjadi saat kedua garis MACD di bawah garis nol dan MACD line di bawah signal line.

Divergence antara MACD dengan harga menunjukkan down move up sedang melemah. Bullis divergence terjadi ketika harga sedang membentuk Lower lows, tetapi MACD sedang membentuk higher low yang merupakan sinyal down move sedang melemah. Bearish divergence terjadi ketika harga sedang membentuk higer highs, tetapi MACD sedang membentuk lower highs dan merupakan sinyal bahwa up move sedang melemah.

Satu hal yang perlu diperhatikan, divergence memang menunjukkan tren mulai melemah tetapi belum tentu tren berbalik arah (reversal). Konfirmasi reversal harus berasal dari gerakan harga.


MACD


Momentum
Sebagai indikator yang terkemuka, indikator ini mengukur tingkat perubahan harga (rate-of-change)apakah harga naik atau turun dengan taraf yang bertambah atau berkurang dalam masa observasi yang ditetapkan. Momentum dihitung dengan mengurangi harga actual dari harga periode yang telah lewat.

Secara umum momentum digunakan untuk menunjukkan kondisi overbought atau oversold serta menunjukkan bullish divergence dan bearish divergence. Pasar overbought atau oversold berarti sebuah kondisi pasar di mana harga sudah naik atau turun terlalu jauh sehingga kemungkinan besar terjadi koreksi (retracement).

Jika garis momentum mencapai nilai sangat tinggi di atas garis nol, ini menandakan bahwa pasar overbought. Jika garis momentum mencapai nilai sangat rendah di bawah garis nol, menandakan pasar oversold. Sinyal overbought dan oversold dapat lebih dipercaya dalam pasar yang sedang mengalami non-trending di mana harga sering membuat highs dan lows yang selaras.

Adanya perbedaan antara garis momentum dan harga menunjukkan tren yang sedang melemah dengan terjadinya bullish divergence atau bearish divergence.


Momentum


Moving Average of Oscillator
Moving Average of Oscillator merupakan perbedaan antara oscillator dan oscillator smoothing. Dalam hal ini, moving average convergence divergence base-line digunakan sebagai oscillator dan signal line digunakan untuk smoothing.


Moving Average of Oscillator


Relative Strength Index
Relative Strength Index (RSI) merupakan oscillator yang popular digunakan. Diperkenalkan pertama kali oleh Welles Wilder dalam sebuah artikel yang dimuat di Commodities Magazine (sekarang dikenal sebagai Futures Magazine) pada juni 1978.

Relative Strength Index (RSI) adalah suatu grafik batasan momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dari suatu nilai dengan besaran penurunan dari suatu nilai.

RSI bergerak anatara 0 dan 100 dengan 70 dan 30 sebagai batasan bahwa harga itu overbought atau oversold. Hal ini merupakan parameter tunggal. Periode waktu yang disarankan oleh Wilder adalah 14, tetapi pada perkembangannya periode 9 dan 25 juga sering digunakan.
Menurut Wider ada lima kegunaan RSI dalam menganalisis grafik, yaitu:

  1. Tops and Bottom. Top di atas 70 dan Bottoms di bawah 30.
  2. Chart Formations. RSI sering membentuk pola grafik seperti head and shoulders, triangles yang mungkin tidak Nampak dalam grafik harga.
  3. Failure Swing, sering disebut sebagai support and resistant penetrations atau breakouts. Terjadi saat RSI melewati previous high (peak) atau turun di bawah recent low (trough).
  4. Support and Resistance. RSI terkadang lebih jelas dalam menunjukkan level support and resistance daripada harga itu sendiri.
  5. Divergences. Divergences terjadi pada saat harga membentuk new high (atau low) yang tidak dikonfirmasi oleh new high (atau low) pada RSI. Harga biasanya terkoreksi dan bergerak dengan pergerakkan RSI.


Relative Strength Index (RSI)



Relative Vigor Index
Pada tahun 1972, Jim Waters dan Larry Williams menerbitkan deskripsi tentang A/D Oscillator. A/D berarti accumulation/distribution.

Relative Vigor Index (RVI) merupakan bentuk yang tepat dalam menganalisis accumulation/distribution karena RVI menggabungkan konsep lama dengan teknologi baru.

Ide dasar dari RVI adalah harga penutupan cenderung untuk ditutup pada level yang tinggi Dari harga pembukaan pada up market, dan cenderung untuk ditutup lebih rendah dari harga pembukaan pada down market.


Relative Vigor Index (RVI)


Stochastick Oscillator
Dikembangkan oleh George Lane, Stochastic Oscillator adalah suatu indikator momentum yang mengukur harga suatu mata uang atau komoditi sehubungan dengan high/low pada periode waktu tertentu.

Indikator bergerak antara 0 dan 100, dengan pembacaan di bawah 20 adalah oversold dan pembacaan di atas 80 adalah overbought. Sebagai contoh, pada Stochastic Oscillator dengan periode 14, terbaca 30, angka ini menunjukkan bahwa harga saat ini adalah 30% di atas harga terendah dari 14 hari terakhir dan 70% di bawah harga tertingginya saat itu.


Stochastic oscillator


Metode umum dalam menggunakan indikator ini adalah:
Beli ketika oscillator turun di bawah level tertentu (contoh: 20) kemudian naik melewati level tersebut. Jual ketika oscillator naik di atas level tertentu (contoh: 80) kemudian turun melewati level tersebut. Cari divergence ketika harga cenderung naik dan stochastic oscillator cenderung turun atau sebaliknya.